Google  
Web    Images    GroupsNew!    News    Froogle    more »
  Advanced Search
  Preferences    
 Web Results 1 - 10 for lantai3[definition].  
 
    
« Home

Posts

NGEMIS
TUJUH
2005
TIKUS
Bakso
Menakar Cinta
Mata
Pecel Perdamaian
NAMA
Networking
 
     Archives
November 2004
August 2005
September 2005
October 2005
November 2005
December 2005
January 2006
 
     Links
Ina Surina
Popon Suropon
Ochan Surocan
Abe Surabe
Yunus Idol

LEBARAN LANTAI 3

Detik jam itu berpacu di lantai tiga.
Bergegas melayani pemirsa.
(esai foto & teks by bobby gunawan)


04.00 wib (make up dulu ah)


04.55 (cepetan latihan ama wardobe ...5 menit lagi nehhh)


05.00 ( and 5...4...3...2...1...GO !)


05.10 (camera girl @ studio 5...)


05.30 (fronter masih nyala...ati-ati jangan kecepetan. kasian penyiar)


06.00 (akhirnya beres juga. SUKSES !)

06.30 (Shalat Ied dulu ahh....)


08.00 (PULANG !!!!)


08.15 (kok jakarta sepi ya?)


08.30 wib (nongkrong ahhhh.....)


10.00 (pegellll !!!! pijitin donggg)


10.05 (tidur loe !!! entar sakit kerja mulu)

LEBARAN LANTAI 3 - Sunday, November 14, 2004 -

MASA LALU...

Ada banyak kata…ada banyak data….ada banyak fakta
Melihat tulisanku yang lalu, membawa rasa rindu
Duh….masa lalu


BANDUNG—Kasus pemilu di Al Zaytun nampaknya akan berbuntut panjang. Sekitar 60 santri Ma’had Al Zaytun Indramayu, siap beberkan kecurangan pemilu Legislatif dan Presiden putaran pertama di dalam pesantren.….

……Termasuk Bupati Sukabumi, Maman Sulaeman. Mendengar kabar guru super, Maman merasa seperti disambar petir……….

…Gusti menolak menyebutkan nama-nama tahanan yang dipindahkan ke Bandung. “Nanti, besok saja” kata Gusti. Namun, penelusuran TNR, selain menemukan nama Soyan Ibrahim…….

…..Agedan ini cukup jarang ditemukan. Terlebih, kaum lesbi cukup tertutup. Ini diakui Nani Subagja. Perempuan bertubuh atletis ini, mengaku sebagai lesbian. “Saya tidak se frontal lesbian di luar negeri,” kata Nani.

…..Socrates menganggap kaki laba-laba ada 5. Sialnya, dunia terlanjur percaya dengan ucapan Socrates. Hingga ahli biologi mengkritisi Socrates, 1000 tahun kemudian. “Kaki laba-laba ada 8,” kata Prof.Silaban. Menurutnya, ilmuan memang sering membuat kesalahan. Tapi mereka tidak berbohong seperti politikus.

>
- -

TUMPUL

Ungkapan lama itu terbukti juga. Menulis ibarat pisau. Tak diasah, tumpul jadinya. Siang tadi, aku liputan ke kantor Menkokesra. Ada Rakor disana. Beberapa menteri berkumpul. Wawancara, masih lancar.

lalu setibanya di kantor, kemampuan di menulis naskah HANCURRRRRRRRRRRRRRRRRRR !!!

AAARGGGGGGGGGGGGG !!!!!!!!!!!

TUMPUL - Wednesday, November 10, 2004 -

PULANG KAMPUNG


Tak terasa tingal hitungan jari menuju lebaran. Wah...nampaknya saya harus menghabiskan waktu lebaran di kantor. Meliput...


Melihat tayangan kawan-kawan tim PULANG KAMPUNG di Merak dan Pantura, kok aku jadi kangen sama mereka ya? andai aku ada di antara mereka saat live ! beralangsung. Doaku untuk mereka. Semoga rating dan sharenya besar. Supaya dapet bonus !!!

PULANG KAMPUNG - Monday, November 08, 2004 -

CAMPERS


Bisik-bisik itu akhirnya jadi kenyataan. Mas Iwan--kepala div.news--menempel roling crew. Saat kutengok kertas rolingan, betapa terkejutnya hati ini. Tak ada namaku dibaris reporter di semua program. Kemana namaku? eng ing eng...ternyata, nama bobby gunawan tercantum di jajaran camera person (campers). wuih...berat ! aku harus belajar serius soal kamera nih.

Karena jadi campers Reportase, mau tak mau aku harus belajar kamera segala jenis. Mulai dari Sony PD 170 hingga DVC Pro Panasonic. Baiklah...akan saya mulai !




DVC PRO




SONY PD 170


CAMPERS - -

Zapatista


Bayang Tak Berwajah

"Negara, Demokrasi, Kebebasan dan Keadilan bukan cuman kata-kata besar nan agung. Namun juga realitas hidup bangsa Meksiko. Bagi kami, hidup tanpa mencapai tujuan tersebut adalah nista, dan mati dalam memperjuangkannya adalah kehormatan"

(Subcomandante Insurgente Marcos)

Zapatista - -

RATING



Televisi, Musuh di Ruang Keluarga Indonesia (?)
Oleh Garin Nugroho


PASCA TAHUN 1995, beberapa pemilik stasiun televisi Eropa-Amerika meminta maaf secara terbuka kepada masyarakat karena menyadari selama ini mereka menayangkan program- program yang dipenuhi kekerasan sehingga menggelisahkan masyarakat. Pernyataan itu didukung korporasi-korporasi bisnis raksasa, yang melakukan komitmen bersama untuk tak memasang iklan di stasiun televisi yang memuat program-program kekerasan.

Kebijakan pemilik stasiun televisi dan komitmen korporasi tersebut sesungguhnya sangat relevan dengan munculnya berbagai kritik terhadap kekerasan dan tampilan vulgar program-program di stasiun televisi Indonesia. Perilaku meminta maaf tersebut mencerminkan dua kesadaran terpenting pemilik stasiun televisi terhadap peran televisi sekaligus kesadaran daya hidup ekonomi jangka panjang industri televisi.

Pertama, televisi tidak lepas dari kodratnya sebagai anak emas teknokapitalis, yang tumbuh dalam masyarakat industri sekaligus di ruang keluarga. Karena itu, program televisi senantiasa membawa berbagai wajah persitegangan, baik antara dunia rumah dan industri budaya populer, antara pendidikan dan hiburan, antara nilai keutamaan dan nilai baru, maupun antara pola kebangsaan dan nilai-nilai baru nasionalisme, kelokalan, ataupun globalisme.

Kedua, televisi adalah dunia padat modal dalam tingkat percepatan pemutaran penyebaran yang tinggi. Sebutlah, untuk belanja program per tahun, bisa mencapai 400 miliar rupiah. Maka, stasiun televisi daya hidupnya sangat tergantung pada keterampilan mengkapitalis ekonomi secara cepat dan banyak lewat progam- programnya, yang diukur dalam sistem rating. Yakni, suatu sistem yang mengukur daya kepopuleran program televisi dalam perspektif segmen pasar dan demografi serta analisisnya terhadap waktu dan ruang tayang televisi guna memahami daya jangkau suatu produk sponsor kepada khalayak.

Namun, haruslah dicatat, sistem rating dalam sejarahnya ditumbuhkan dalam perspektif memenuhi kewajiban perlindungan terhadap masyarakat industri. Yakni, rating harus menghormati nilai- nilai yang dimuat dalam berbagai aspek perundangan maupun kode etik televisi itu sendiri. Baik itu termuat dalam Undang-Undang (UU) Penyiaran, regulasi Komisi Penyiaran, UU Pers, UU Perlindungan Konsumen, sekaligus nilai-nilai hak informasi maupun hak asasi manusia.

Simak, kasus kecil, ihwal etika menulis cerita. Dalam sinetron Eropa-Amerika, jika menggambarkan hasil uang perampokan, uang tersebut akan digambarkan terbakar atau terkena angin atau diberikan kepada yang berhak, tidak dimiliki si penjahat. Contoh ini menggambarkan, program televisi bukanlah ruang hampa, tetapi memuat secara intrinsik panduan nilai bermasyarakat dan berbangsa.

Upaya mengikuti etika ini terbukti tidak membuat penulis cerita Eropa-Amerika tidak laku dan tidak populer ataupun kehilangan rating. Justru menjadi terampil melahirkan bisnis televisi yang beretika, ber-rating, dan menjadi panduan dunia. Sayangnya, stasiun televisi Indonesia sering hanya mengimpor maupun meniru program Amerika-Eropa, baik itu program kriminal, dunia gaib, hingga berita 60 menit, yang menjamin rating, tetapi lupa mengimpor perilaku kultur televisi Eropa-Amerika perihal rating.

Di berbagai negara Eropa, kekerasan memiliki regulasi sendiri, baik perihal jadwal maupun cara menampilkannya (the potrayal of violence) yang dikeluarkan Komisi Penyiaran-nya. Yang pasti, program kekerasan tidak boleh disiarkan di waktu tayang keluarga. Sementara di Indonesia, banyak program yang mengandung kekerasan ditayangkan di ruang dan waktu keluarga.

PERILAKU meminta maaf pengelola televisi tersebut justru kemudian berperan ganda. Pertama, menjadi PR (public relations) yang efektif sehingga institusi keluarga, masyarakat, politik, dan bisnis Amerika-Eropa merasa harus menyelamatkan dan membantu televisi sebagai sahabat di ruang keluarga. Di sisi lain, permintaan maaf tersebut melanjutkan tradisi kultur sensor stasiun televisi Eropa-Amerika, yang mengedepankan sensor ke dalam alias kode etik yang dibangun bersama antarstasiun televisi sebagai jembatan menjaga hubungan televisi dengan masyarakat.

Maka, perhatikan program kriminal 911 di televisi Amerika. Program kriminal ini justru melahirkan rasa kepahlawanan di masyarakat karena menceritakan anggota masyarakat atau polisi yang menolong seseorang dalam peristiwa kejahatan, sementara kekerasan hanya sebagai ilustrasi yang amat dijaga tampilannya. Sayangnya, di Indonesia justru terbalik. Kekerasan menjadi utama, sementara kepahlawanan tertutup perilaku polisi yang justru penuh kekerasan juga.

Dalam berbagai diskusi, para pengelola televisi senantiasa berlindung di balik rating dan balik menuding bahwa para pengkritik televisi tidak cukup memahami bisnis dan budaya populer.

Bisa ditebak, di Indonesia, rating menjadi banality, suatu anarki atas nama demokrasi yang tidak memenuhi syarat, karena tidak dikelola dalam regulasi ruang dan waktu yang ditentukan. Ibarat menumbuhkan minat baca dengan memberi komik kekerasan dan porno di waktu dan ruang sekolah, tentu saja akan menjadi laris dan populer, tetapi kehilangan perspektif etika pendidikan.

Rating yang tidak sehat ini pada gilirannya melahirkan budaya industri televisi yang tidak sehat juga, yang mengesahkan berbagai aspek kekerasan, baik kekerasan modal, perilaku, simbol, bahasa, hingga konsumerisme sebagai tontonan. Hal ini, salah satunya, diakibatkan oleh rapuhnya kebijakan industri televisi sejak awalnya, yang menjadikan jumlah stasiun televisi berskala nasional tidak sebanding dengan kue iklannya dan geopolitik serta demografi masyarakatnya. Akibatnya, terjadi persaingan yang tidak sehat untuk menaikkan rating tanpa peduli etika.

Pascatahun 2000, dengan bertambahnya tiga stasiun baru, terjadi pertumbuhan pesat, lebih dari 60 persen program mereka berciri penuh kekerasan, erotik, vulgar dengan tema seks, goyang, dan manipulasi emosi.




Akibat lebih jauh, terjadi kekerasan modal terhadap sumber daya kreatif televisi, yakni dengan tidak diberinya ruang dan waktu menumbuhkan keterampilan esensi industri jasa. Yakni, keterampilan menciptakan program televisi yang melahirkan relaksasi populer, yang memberi ruang rasa indah, rasa kepahlawanan, rasa hormat, rasa cinta, terharu, tertawa, dan berbagai relaksasi ringan yang produktif lainnya. Simaklah, berbagai perspektif perasaan yang humanis yang muncul dari serial Bajaj Bajuri, ruang bersama bermasyarakat dalam Kuis Siapa Berani, atau dunia kompetisi dalam budaya karnaval post modern ala Akademi Fantasi Indosiar ataupun Indonesian Idol.

Akibat dari banality rating tersebut, yang menjadi korban adalah masyarakat, serta tak kalah pentingnya adalah pekerja kreatif stasiun televisi yang semakin dituntut banyak kerja. Sebuah budaya industri televisi yang serba menuntut cepat dan banyak, tetapi tanpa panduan, yang berakhir dengan kebosanan, keseragaman, dan wajah pekerja yang kelelahan.

Maka, jangan heran, banyak pelaku televisi yang membuat program dunia gaib atau kriminal yang bicara pada penulis, "Aku yang bikin, tapi tak usah nonton, anakku saja tak boleh nonton, ngawur. Tapi, mau apa lagi, enggak ada diskusi…, pokoknya rating…, masyarakat nonton."

Jangan heran pula, program televisi Indonesia cenderung sebagian besar semakin jauh dari kemampuan sebagai medium budaya populer yang produktif dan kompetitif sekaligus genial, tetapi dunia penuh kekerasan dan konsumerisme, sebuah dunia limpah ruah yang rapuh.

Simaklah, gejala sebagian besar program di televisi Indonesia yang hanya meniru aspek fisiknya atau penampakannya saja. Yakni, jika meniru sinetron luar, sebutlah F4, maka sinetron seri kita cuma meniru kegantengan dan gayanya, tetapi tokohnya kehilangan profesi dan ceritanya, kehilangan keterampilan dramaturgi. Inilah sebuah tontonan penuh konsumerisme tanpa memberi transformasi keterampilan dramaturgi sebagai modal dasar industri jasa tontonan dan rating itu sendiri.

Simaklah pula, sistem hadiah dalam kuis yang mengobral tampilan uang di tangan dengan pertanyaan yang disebut "gampang kok dapat satu juta rupiah". Perilaku semacam ini hati-hati untuk dimunculkan di televisi Eropa-Amerika karena etika menampilkan uang dalam kuis juga harus dipatuhi.

Karena itu, upaya salah satu direktur program televisi untuk menghentikan program yang melanggar etika penyiaran patutlah diacungi jempol, dan selayaknya diikuti komitmen korporasi bisnis untuk tidak memasang iklan di program yang melanggar kode etik penyiaran.


Garin Nugroho

Pengamat Komunikasi



RATING - -

SANG SAKA


Bendera itu berkibar dilangit kawasan kumuh Petamburan. Berdiri tegak diantara rumah yang megapit rel kereta tanah abang. Jika kereta melintas, sang saka*) makin berkibar. Gagahnya.... ! jes..gejes...gejes...tut...tutttt


Ketika kereta tak lagi datang, keheningan tercipta. Tak ada lagi suara jes..gejes...gejes...tut...tutttt. Hei...ada apa ini? Tiba-tiba berdera tak lagi berkibar. Kini ia diam lesu dan membisu.

Kucari jawabannya. Kutengtok langit. Mulai dari timur hingga ke selatan. Hingga angin dari selatan menerpa wajahku. Lihat ! dia kembali berkibar. Tapi, ada yang lain dari bendera itu. Kibarannya kali ini, tidak se heroik ketika kereta melintas. Rupanya, angin yang membuatnya berkibar, baru saja singgah dari atap apartemen mewah di kawasan elit Sudirman. Nama jalan yang diambil dari Pahlawan besar kita. Bendera oh bendera...
-----------------------------------
*) The National Flag
The Indonesian national flag is called "Sang Saka Merah Putih". As provided for in Article 35 of he 1945 Constitution, the flag is made up of two colors, red on top of white. Its width is two-thirds of its length, or two metres by three meters. It is hoisted in front of the presidential palace, of government buldings and Indonesian missions abroad. The first flag was courageously flown admidst Japanese occupation forces on the Indonesia’s independence was proclaimed. Since then it has been hoisted at independence day commemorations in front of the presidential palace n the capital city of Jakarta. This historical flag, or "bendera pusaka", was flown for the last time on August 17, 1968. Since then it has been preserved and replaced by a replica woven of pure Indonesian silk.

SANG SAKA - -

LANTAI 3


lantai3
--Telah terbit blog baru milik Bobby Gunawan. Blog berlatar hitam ini dinamakan lantai tiga. Menurut Bobby, ini adalah lantai tempat divisi news trans tv berada. Blog ini didedikasikan untuk kemajuan kita semua. Bisa berisi wacana jurnalisme penyiaran, biasa juga curhat.

Logo reportase yang ditonjolkan pada tulisan ini adalah logo program Reportase, tempat bobby berada. selamat membaca !***
LANTAI 3 - Tuesday, November 02, 2004 -

Result Page: 

 








 


 

Search within results | Language Tools | Search Tips | Dissatisfied? Help us improve


Google Home - Blogger - Blogger Templates

© 2005 lantai3