Akhirnya aku ada di Bandung ! tapi dengan kisah ini....
Malam takbiran di gang sempit yang basah. Hujan turun deras sekali. Perlahan kulangkahkan kaki ini kedalam rumah mungil di kawasan Cijerah Bandung. Ya Allah, lelaki itu tergolek kaku dilantai yang basah. Tubuhnya yang tak bernyawa ditutupi kain batik warna cokelat. Sesekali air bocoran dari atap menetes tepat disamping kakinya.
Jenasah ! Itulah sebutan resmi yang disandang ayah dua anak ini. Dia mati bunuh diri. Melilit leher dengan tali. Ya ampun...Apa yang ada dalam pikirannya? Kenapa?
Lalu Isteri dan anaknya memberikan jawaban. Sebelum mati, lelaki itu seolah ingin lepas dari tanggung jawab keluarga. Hemm...tapi bukankah dia mencintai keluarganya? Mencintai isterinya yang jelita? anaknya yang lucu? Kenapa berkah itu harus kau lepas?
Sejumlah data lalu kukumpulkan perlahan. Isterinya mengatakan, suaminya yang kini mati itu sudah 3 hari tak pulang ke rumah. Keluarga bingung dengan keberadaannya. Tak ada lagi yang memberikan uang, agar dapur tetap mengepul. Terlebih ini adalah malam lebaran. Sang isteri merasa dia dan anaknya sudah menjadi beban berat bagi suaminya yang pengangguran.
Menjelang magrib, Allah mempertemukan lagi isteri dan suami itu. Tapi dengan sebuah sengatan pedas. "Saya minta cerai," kata si Isteri. Bukan tak lagi cinta, tapi si isteri lelah merasa jadi beban.
Menjelang malam takbiran, suami pengangguran itu akhirnya mau pulang ke rumah. Tapi sengatan kembali datang. Anaknya yang berusia 11 tahun melarang ayahnya masuk rumah. Dia geram dengan sikap ayahnya yang melarikan diri dari tanggung jawab. Mungkin anak itu sedih melihat ibunya harus ngutang kanan kiri hanya untuk membeli sesuap nasi.
Anak itu juga kecewa tak bisa seperti anak lain dimalam takbiran. "Ingin baju lebaran," kata anak yang baru putus sekolah 3 bulan lalu ini. Apa daya, ayahnya tak punya uang. Untuk makan saja tak punya. Lalu sang ayah hanya bisa menunggu halaman rumah yang sempit. Merokok, merenungkan nasib.
Isteri tercinta akhirnya memarahi anaknya agar tak bersikap kasar pada sang ayah. Semua anggota lalu berkumpul ddidalam rumah sempit. Isteri menyiapkan makan malam, berupa mie instan--karena tak sanggup beli nasi? Sementara suami pamitan naik keloteng.
Selang beberapa menit suasana hening. tak ada suara mencurigakan. Hinga anaknya naik keatas, hendak memberi makan burung. Tapi.....Bukan burung yang dilihat, melainkan lidah ayahnya yang sudah menjulur penuh busa. Mati bunuh diri.
Tak jauh dari lokasi gantung diri, terdengar suara berisik dijalanan. Sejumlah orang berjodeg ria merayakan malam lebaran. Melihat dari gaya dan aksinya, seolah baru saja mendapat kebahagian luar biasa.
Hujam masih turun. Disisi lain kota Bandung, sejumlah orang menyalurkan kegilaannya berbelanja. Menyerbu FO. Mereka kesurupan menghabiskan uang untuk pakaian lebaran. Menghabiskan uang untuk menambah jumlah koleksi pakaian. Foya Foya BUNG !
Aku kok jadi miris melihat kontrasnya suasana kota Bandung.